MADZHAB
ISFAHAN
Filsafat madzhab Isfahan ini
lebih dikenal dengan
Al-Hikamtul Muta’aliyyah atau fislafat tinggi.
Munculnya madzhab Isfahan ini tak terlepas
dari pergejolakan politik pada waktu itu. Isfahan adalah sebuah daerah di
daratan Persia.
Istilah ini mula-mula dipopulerkan oleh Nasr, Corbin Asytiyani dan
selanjutnya diperluas
oleh sarjana-sarjana lainnya. Pendiri madzhab
ini adalah Mir Damad yang kelak melahirkan
murid tersohornya: Mulla Shadra sebagai
penerus dan pengembang madzhab Isfahan
ini. Oleh karena itu filsafat Hikmah (Al-Hikmatul
Muta’aliyyah) atau madzhab Isfahan ini merupakan fiilsafat
yang bermuara pada
kedua tokoh guru murid tersebut. Madzhab
ini muncuk ketika dinasti Shafawiyah mulai
memindahkan ibukotanya dari Tibriz, kemudian
ke Qazwin dan terakhir di Isfahan.
Pada periode ini, Madzhab Isfahan
berhasil membangun
teologi yang kukuh, dan Persia mengalami
salah satu periode terbesar dalam kemakmuran
politik dan materialnya. Namun pada
perjalanan selanjutnya, dalam usaha yang tak kenal untuk memperkuat
legitimasi kekuasaannya
dinasti shafawiyyah membutuhkan
ahli fiqh dan para ahli Syi’ah dogmatis.
Ini belum lagi para pengkhutbah dan para
ulama yang ditugaskan untuk menyebarluaskan
idiologi negara.
Inti madzhab isfahan ini adalah
upaya untuk menyatukan
kekuatan yang beragam dan bertentangan
dalam sejarah intelektual Islam ke
dalam kesatuan epistemologis dan ontologis yang selaras. Hingga puncak
gerakan ini pada diri
Mulla Shadra As-Syirazi, upaya-upaya Mir Damad haruslah dianggap sebagai
kerangka persiapan.
Pada mulanya terdapat beragam
pertentangan intelelektual
Islam. Satu sisi ada kelompok filafat,
kemudian kaum sufistik dan dogmatikawan
Syi’ah. Ketiga kelompok ini memunculkan
pandangan yang berbeda sehingga
berpotensi menimbulkan perpecahan. Hal
ini terutama para doktrinal Syi’ah yang didukung oleh penguasa
Shafawiyyah hendak membabat
habis para filsof. Praktik filsafat yang
diupayakan oleh para filsof Persia dianggap
sebagai amalan berbahaya dan mempunyai
resiko bahaya bagi
mereka sendiri. Hal ini mempengaruhi terhadap
kebijakan politik
Bani shafawiyyah. Penguasa shafawiyyah
tidak mengalokasikan anggaran untuk
studi filsafat. Hal ini diperparah dengan serangan yang keras dari para
dogmatikawan Syi’ah.
Mereka menilai negatif para filsof dengan
menganggap bahwa para filsof adalah orang-orang
kafir dan menghina Tuhan.
Tantangan yang hendak dipenuhi
oleh madzhab Isfahan
adalah mengawinkan semua diskursus yang
beragam dan bertentangan mengenai pemahaman yang sah yang secara
historis telah mengkotak-kotakan
kaum muslimin dan selanjutnya
menempatkan Syi’ah yang memimpin semua itu. Butir-butir
penting sisinya bukan hanya membuat tradisi
filsafat madzhab
peripatetik dan ilumininsme, melainkan
juga gnosis versi Ibnu Arabi san Syai’ah
periode pasca Ghaibah. Terilhami
oleh cita-cita itu, Mulla Shadra, sebagai
murid kaliber Mir Damad, kemudian mengembangkan
filsafat yang revolusioner dan ambisius
dalam upaya membuat sintesis yang menyeluruh,
bukan hanya antara orientasi-orientasi beragam dalam tradisi paripatetik dan illuminisme Islam, melainkan
yang lebih mendasar
lagi, mengkoordinasikan sintesis yang sulit
itu dengan dioktrin gnosis dan doktrin fiqh
Syi’ah. Filsafat ini secara umum bertumpu
pada tiga teori yaitu kesatuan wujud (wahdatul
wujud), keutamaan wujud (ashalatul wujud),
gerak substansial (alkharokatul jauhuhariyyah)
dan kemanunggalan yang mengetahui
dan diketahui (ittihad al-‘aqil wa ma’qul).
Filsafat ini berusaha menjembatani antara
paradigma rasional empiristik dengan spiritula
–mistik. Oleh karena itu, titik tolak dari
seluruh bangunan filsafat Isfahan ini adalah
konsep Ada (wujud). Jadi obyek material
filsafat ini yang paling pokok adalah Being
atau Ada.
Sebelumnya, ketika masih di
tangan Mir Damad filsafat
ini berpijak pada keberhasilaz berkelanjutan
diskursus-diskusus Paripatetik (rasionalistik-aristotelian)
dan iluminisme (spiritual)
yang dominan dalam jagat diskursus
filsafat Islam di masa Ibnu Shina dan
suharawardi. Baik Mir Damad maupun Mulla Shadra mencela praktik
spiritual-sufistik hingga
melalaikan rasio dan juga sebaliknya para
ahli fiqh yang dogmatis. Bahkan Mulla Shadra
mengecam keras kaum sufi yang mabuk maupun
para fiqh yang literalis.
Sebagai
filsafat yang berdasarkan pada konsep
Ada, filsafat ini pada level ontologism hampir sama dengan filsafatnya
Heidegger. Filsafat
Heidegger adalah filsafat yang berprinsip
pada konsep Ada (Being). Hal ini diilhami
oleh filsafat Barat yang menurut Heidegger
sendiri terjangkiti amnesia tentang Ada.
Ada pada filsafat modern Barat disamakan
dengan adaan (being). Maka dari itu,
filsafat madzhab Isfahan ini untuk erapostmodernisme ini sebenarnya menemukan momentumnya. Ketika filsafat
modern diklaim sebagai
filsafat yang tak kenal Ada sehingga menimbulkan
beragam masalah akut pada wilayah
aksiologinya, maka filsafat Isfahan ini mempunyai potensi antitesis
terhadap spirit filsafat
modern yang mulai dikritik dan digugat
oleh banyak orang itu.
Sumber : https://moxeeb.wordpress.com/2008/11/20/aliran-aliran-dalam-filsafat-islam/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar