ISYRAQIYYAH (ILLUMINISME)
Filsafat
Isyraqiyyah atau iluminisme adalah sebuah
pemikiran filosofis yang dasar epistemologinya
adalah hati atau intuisi. Secara
prosedural, logika yang dibangun adalah sama dengan logika emanasi dalam paripatetisme. Namun secara substansial keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar.
Tokoh
pelopor munculnya filsafat iluminatik ini adalah Suhrawardi. Nama lengkapnya adalah Sihabuddin Yahya ibn Habasy ibn Amirak Abu Alfutuh Suhrawardi. Ia dilahirkan di di
kota kecil, Suhraward, Persia lau pada
tahun 549/1154 M. Suhrawardi disebut juga
Al- Syaikh Al-Maqtul, seperti halnya
Socrates, ia dibunuh oleh penguasa Islam pada
waktu itu karena pemikiran filsafatnya yang
dianggap menentang maenstream pemikiran pada
waktu itu.
Filsafat
Isyraqiyyah ini pada mulanya digunakan
Suhrawardi untuk mengkritik filsafat
peripatetiknya Ibnu Shina. Dalam serangannya
yang mungkin paling sengit pada Ibnu
Shina, Suhrawardi menolak secara empatik pandangan Ibnu Shina sebagai filsof Timur (masyriqi). Dalam pandangan Suhrawardi, filsafat Paripatetik yang diusung oleh
Ibnu Shina dan kawan-kawan tidak layak
diklaim sebagai filsafat Timur. Ada
perbedaan yang mendasar antara filsafat
paripatetik dengan filsafat Timur.
Serangan dan kritik utama Suhrawardi
lebih merujuk pada buku yang berjudul
Kararis al-Hikmah, yang dinisbahkan oleh
Ibnu Shina sebagai metode filsafat timur.
Pertama-tama
Suhrawardi menegaskan karaguan
atas klaim Ibnu Shina bahwa Kararis didasarkan
atas prinsip-prinsip ketimuran. Kemudian,
ia melanjutkannya dengan menolak sengit
penegasan Ibn Shina bahwa Kararis merupakan
filsafat baru atas dasar sepasang argumen
berikut: Pertama, tidak ada filsafat Timur
sebelum Suhrawardi menciptakan filsafat
iluminasi. Kedua, Suhrawardi bersikeras
menunjukkan bahwa Kararis sesungguhnya
disusun semata-mata sesuai dengan
kaidah-kaidah Peripatetik (qawaid al- masyasya’in)
yang sudah mapan, yang terdir dari
masalah-masalah yang hanya dimasukkan dalam
apa yang olehnya dikhususkan sebagai philosophia
generalis (al-hikam al-ammah).
Epistemologi Isyraqiyyah
Dalam
bagian dari jenis keilmuan, filsafat iluminisme atau isyraqiyyah ini adalah
bagian dari pengetahuan khudluri
(knowledge by preson). Ilmu khudluri adalah ilmu
yang didapatkan secara langsung oleh
seseorang melalui pengalaman kehidupannya.
Dalam pengetahuan dan kesadaran ini,
pengetahuan dan subyek serta obyek sama sekali
tidak dapat dipilah-pilah. Kemanunggalan
subyek dan obyek pengetahuan ini adalah
istanta (instance/mishdaq) paling sempurna
dari kehadiran obyek pengetahuanb pada
subyek pengetahuan. Karena prinsip dasar
illuminisme adalah bahwa mengetahui sesuatu
berarti memperoleh pengalaman tentangnya,
serupa dengan intuisi primer terhadap
determinan- determinan sesuatu. Apa yang ingin
dijelaskan oleh Suhrawardi dalam filsafatnya
adalah pengalaman pribadinya sendiri,
yaitu pengalaman sehari-hari yang sampai
pada titik tertentu ia bisa mencapai realitas
puncak tertinggi (ultimate reality).
Dengan
demikian, metodologi untuk mendapatkan
pengetahuan ini bukanlah melalui serapan
indera, tetapi melalui pelatihan spiritual
atau riyadlah. Karena pengetahuan semacam
ini, saran yang dibutuhkan adalah kebersihan
dan kesucian hati. Bagi seseorang yang
mencapai kebersihan hati, maka secara langsung
ia akan mendapatkan pengalaman tentang
realitas hakiki (ultimate reality). Dalam
perolehanya jiwa atau hati (qolb) mengalami
keterbukaan (mukasyafah) sehingga ia akan terlimpahi oleh pancaran cahaya dari sumber cahaya itu sendiri. Sebagaimana
yang dikatakan oleh Suhrawardi sendiri
bahwa prinsip filsafat Isyraqiyyah adalah
mendapat kebenaran lewat pengalaman
intuitif, kemudian mengelaborasi dan
memverivikasinya secara logis
rasional.
Kemudian
bagaimana gambaran atau bentuk dari
pengetahuan iluminasi yang masuk kategori khudluri ini? Secara umum sebenarnya hampir sama dengan filsafat emanasi. Di situ terdapat tangga-tangga
wujud (existence) mulai dari wujud satu
hingga sebelas. Jadi secara formal
bentuknya sama dengan filsafat emanasi dalam
parepatatisme yang mendahuluinya, dalam isyraqiyyah
wujud mempunyai hirarki-hirarki, dari
yang paling atas sampai terbawah. Hanya saja
kalau dalam filsafat emanasi setiap tingkat
diidentikkan dengan intelek, maka dalam filsafat Isyraqiyyah tingkatan-tingkatan tersebut diidentikkan dengan nur (cahaya).
Jadi
seperti yang dijelaskan dalam filsafat paripatetik
bahwa yang namanya wujud itu bukan
satu tingkat tetapi bertingkat-tingkat. Wujud ini diistilahkan dengan akal. Maka dalam paripatetik selalu populer dengan istilah
akal satu, akal dua, akal tiga dan
sebagainya. Ini merupakan
penggambaran hirarkisitas aktualisasi
wujud tersebut. Semakin jauh tingkat
wujud tersebut dari wujud utama, maka wujud
tersebut kualitasnya semakin rendah dan begitu sebaliknya, semakin tinggi tingkatan wujud tersebut hingga mendekati aqal
pertama maka kualitas wujud tersebut
semakin suci dan luhur.
Begitu
juga dengan iluminasi. Wujud di sini secara
material diidentikan bukan dengan cahaya
melainkan dengan cahaya. Sehingga ada cahaya
utama yang merupakan cahaya maha cahaya,
dari cahaya utama ini merupakan mewujudkan
cahaya pertama, cahaya pertama mewujudkan
cahaya ke dua, dari cahaya ke dua mewujudkan
cahaya ke tiga dan seterusnya hingga
sampailah cahaya yang terrendah yakni tingkatan
cahaya yang dekat dengan alam materi.
Sekarang
pertanyaannya adalah mengapa cahaya
begitu penting dalam filsafat iluminismenya
Suhrawardi? Kenapa bukan aqal yang
menjadi sarana atau materi utama dalam mengartikulasikan
filsafatnya? Karena ia lebih suka
menggunakan kearifan lokal (local wisdom) dari nenek moyangnya yaitu budaya zoroasterisme. Jadi pada prinsipnya secara material, filsafat Suhrawardi ini bukan an
sich dari Yunani maupun dari wahyu
Islam, tetapi yang terutama dalah dikonstruk dari
budaya lokal, yakni budaya ketimuran.
Hikmatul Isyraqiyyah yang berarti kebijakan
Timur adalah pengalaman ilahiyah yang
sudah ada sebelum Suhrawardi lahir yang
dibawa para wali-wali dan orang suci (Ancient
Person). Ini merupakan wujud obsesinya untuk
mengkritik keras filsafatnya Ibnu Sina yang
sebelumnya dikatakan sebagai filsafat Timur
seperti disinggung di atas. Jadi, melalui
term Hikmatul Isyraqiyyah ini Suharawardi hendak mengatakan bahwa filafat iluminisme ini adalah filsafat yang khas sebagai
representasi absah dari peradaban Timur, karena
secara sosio-cultural, ia diramu dari
tradisi-tradisi klasik Timur yang
dikenal dengan tradisi zoroasterian.
Namun
seperti yang dikatakan di atas, meskipun
ini merupakan jenis pengalaman spiritual,
namun ketika sudah didapatkan bukan berarti
ia menjadi realitas yang tak terbahasakan.
Tetapi bagi Suhrawardi pengalaman
itu justru harus dikonfirmasikan, dikursuskan
secara logis. Menurutnya ada beberapa metode yang
harus ditempuh oleh seseorang untuk
mendapatkan pengetahuan model iluminasi ini.
Tahap pertama, seseorang harus
membersihkan diri dari kecenderungn
diri, dari kecenderungn duniawi
untuk menerima pengetahuan duniawi. Kedua,
setelah menempuh tahap pertama, sang filsof
memasuki tahap iluminasi yang di dalamnya
ia mendapatkan penglihatan akan sinar
ketuhanan (An-nur Ilahiyah) serta mendapatkana
apa yang disebut dengan cahaya ilham
(Al-Anwarus Sanihah). Ketiga, tahap pembangunan
pengetahuan yang utuh, di dasarkan
atas logika diskursif. Keempat adalah tahap
pengungkapan dan penulisannya.
Kelebihan filsafat
Suhrawardi :
Kelebihan
filsafat Suhrawardi ini adalah terletak
pada epistemologinya yang lebih menggunakan
tradisi local, yakni tradisi zoroasterian
yang lebih dulu ada sebelum Islam.
Dengan hal ini Suhrawardi tidak terlalu terjebak pada imitasi dari pola pemikiran orang lain. Ia tidak berfilsafat dari
“alam” pikirannya orang lain, melainkan
justru berangkat dari tradisinya sendiri.
Dengan bertolak dari tradisi lokalnya itu,
ia satu sisi tetap menjaga orosinalitas (ashlah)
tetapi tetap terbuka dengan wacana-wacana
pemikran baru yang berasal dari pihak lain
(ahdatsah).
Dengan
ini pula dibuktikan bahwa, kalau memang
fislafat Suharawardi dikatakan sebagai
filsafat Islam, maka sejak dahulu kala Islam
memang sudah berkolaborasi dengan tradisi
lokal. Sehingga tidak mungkin Islam ditarik
pada wilayah purifikasi, seperti yang diusung
oleh gerakan-gerakan Islam puritan sekarang
ini, yang menolak mentah-mentah tradisi
lokal para pengamal Islam itu sendiri.
Namun
kelemahan dalam metode filsafat tersebut
adalah tidak adanya ilustrasi dan metodologi
jelas terkait cara untuk mengafirmasi,
membahasakan atau memverivikasi
pengalaman iluminatif yang sifatnya
spiritual tersebut ke dalam diskursus logis.
Suhrawradi hanya menyuguhkan metodologi
yang masih sangat umum. Masalah ini
justru sangat penting. Karena secara sepintas
ini terkesan paradoks. Karena masalah spiritual
diklaim sebagai sesuatu yang berlawanan
dengan yang rasional. Maka, sekilas sungguh
tidak masuk akal ketika pengalaman iluminasi
itu oleh Suhrawardi harus diwacanakan
secara logis. Bagaimana caranya untuk
memverivikasikan dari yang spiritual ke rasional itu? Inilah sebenarnya PR Suhrawardi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar